Rabu, 06 Maret 2002

terhambat tersendat-sendat padahal tak ada sesuatu yang mengikat justru kebebasan adalah batasan kita tak pernah mengerti tentang ini hanya diam menunggu seperti orang dungu lalu mengalihkan pada hal yang lain dan terpinggir yang mestinya kita pegang dan kita kerjakan dan suatu saat muncullah pertanyaan itu sampai dimana dan kebingungan lagi dan penyesalan lagi apakah baik kita ulangi lagi
melangkah dan melangkah belajar menempuh perjalanan melaksanakan sebuah kewajiban satu-persatu dengan jiwa yang siap menerima apa saja dan kepala yang selalu dalam kesadaran kita akan terus melangkah dan melangkah
kepanikan jiwa-jiwa berlarian sekencang-kencangnya mencari sesuatu atau menghindar dari sesuatu jiwa-jiwa yang banyak itu semuanya telanjang tak ada yang kenal satu sama lain tak ada yang peduli satu sama lain semua dengan ketakutannya masing-masing semuanya dengan ambisinya masing-masing hanya kepanikan dan ketelanjangan yang membuat mereka sama namun setiap jiwa yang ada merasa disana hanya sendirian berlari sekencang-kencangnya dan berteriak-teriak namun tidak keluar suara
datang lalu pulang yang tersisa hanya kepenatan-kepenatan menempel lekat-lekat pada rongga mulut dan seluruh tubuh siapa yang tahan dengan keadaan ini apa yang terlihat jadi redup meski ada cahaya karena jiwa tertutup kabut bergerak semua toh musti mulai dengan bergerak

Selasa, 05 Maret 2002

dalam sebuah kamar mandi air menggenang terbuang-buang dalam sebuah tong kosong peminta-minta dan seorang nyonya peminta haus dahaga mencari air seorang nyonya ketiduran di kamar seorang peminta mendengar tetes dari dalam kamar mandi maka mengetok pintu rumah nyonya dan yang didapatkan hanya makian
kerisauan menari di tengah lapang kelaparan menari ditengah kekosongan suara-suara air mata menetes menggema mengerikan, mengharukan kita tersesat dalam lubang gelap pekat menakutkan

Senin, 04 Maret 2002

betapa sepinya

Sabtu, 02 Maret 2002

mereka datang beramai-ramai tetapi hening mereka datang bersorak-sorai membongkar dinding ada yang lepas dari punggung ketika keharuan menyatu dalam lautan

Jumat, 01 Maret 2002

ini bakso ini baksomu yah aku tusuk pake garpu ini mie ini mie kamu yah aku lempar dalam mangkok hingga pecah seluruh isi kepala pecahan-pecahan beling mungkin juga lidah darah dari lidah atau juga ludah ludah siapa siapa bukan siapa siapa aku tunggu di tempat parkir tanpa pintu hanya menunggu tepat kau hilang tepat aku bertemu karena kau adalah aku dan keheningan diantara kaca ada wajah tak hilang tak berjejak hanya bekas dari bagian gelap dan mengkilap padanya wajahku tak bercahaya Tuhan telah mengambilnya
sia-sia siapa-siapa apa saja sia-sia siapa-siapa apa saja
kelaparan kaki-kaki kering tanpa sepatu atau alas yang lain selain debu-debu dan asap sisa-sia dari mesiu, bom atau reruntuhan bangunan yang tinggal jadi puing hitam darah kering membekas di jalan-jalan dimana-mana darah perempuan atau darah laki-laki anak-anak atau orang tua wajah perang selalu muram penuh kesakitan dan ketakutan ...lihatlah disekitarmu masih ada dan masih ada disela-sela kedamaian kita dan kelaparan disana disela setiap suap makanan yang kita kunyah ... dan air mata disana.... dimana ... mana aceh ... afganistan ... tempat-tempat tak terkira ribuan jiwa teriak ribuan jiwa terinjak disela ketenangan kita
berilah kami cahaya