Pada akhirnya ruang ini lepas dari makna 'goresan harian' sendiri. Ini bukan hanya goresan tidak juga harian. Ketika saya membutuhkan tempat, ini menjadi ruang untuk bersuara atau diam, mewarnainya dengan yang ada dalam dada atau diluar dari diri, mungkin lebih banyak tertuang kegelisahan dan berputar pada yang itu-itu saja, menunjukkan betapa jauh diri ini dari kata sempurna, tapi setidak-tidaknya bagi saya ini adalah sebuah catatan kecil tentang perjalanan.
Jumat, 11 April 2003
Selasa, 08 April 2003
tetes demi tetes dari ujung botol terus menetes namun tak terdengar tetesnya kita hanya bisa melihatnya dibawah sinar lampu redup sesuau telah tumpah dari atas meja sisa-sisa kemarahan namun entah segalanya telah terdiam diam hanya diam ruang yang berlatar warna segalanya muntah begitu berantakannya dua tiga orang disana memendam segala yang terlintas dalam rasanya takut sesal gugup campur aduk segalanya tertahan kecuali air mata semuanya mengeluarkan air mata tetes demi tetes dari ujung mata terus menetes namun tak terdengar tetesnya
di tepi dinding itu ada jiwa yang sedang gelisah gugup gagab gugup gagab beredebar dadanya tak tenang tak karuan segalanya tertahan pikiran perasaan nafas detak-detak jantung kawan cobalah kau pegang tangannya lepaskan jiwanya bebaskan pikiran perasaannya lepasnkan nafasnya peluk peluklah erat hingga jiwa yang menggigil dingin itu hangat peluklah temani ia tidur temani ia temani ....
ayah kau mau pergi kemana hujan belum juga reda jalanan pasti becek dan basah keheningan itu sudah tak ada kini kau harus melangkah tidak kemana-mana tapi ke satu arah yah arah yang selalu luput dari pandangan kita arah yang selalu tertutup berpuluh bayangan tak karuan hitam merah kelabu biru jingga usang ungu kuning hanya cahaya kesadaran yang bisa menembusnya kau harus melangkah kesana tanpa meredupkan yang selalu saja meredup tak perlu membuang nafas besar atau melemaskan badan itulah sebenar-benarnya pilihan apapun resikonya apapun perihnya apapun duri perigi dan segala semak menjalar itulah jalanmu ayah itulah jalanmu !
Senin, 07 April 2003
permainan baru saja dimulai ia terlambat datang semuanya belum juga basah hujan menutupi semua celah-celah meruntuhkan semua angan semakin deras dan semakin deras ketika itu ia datang tanpa membawa apa-apa tak seperti yang mereka pikir sebelumnya ia datang dengan senyum tak seperti yang mereka bayangkan sebelumnya dengan golok mengkilat digenggam tangan nya nampak baru saja diasah tidak ia tak membawah apa-apa semuanya berhenti menatap kearahnya pada saat yang tepat ribuan malaikat turun dan membawanya ke tempat yang tak mereka jangkau tiba-tiba menghilang tanpa cahaya tanpa butir-butir debu jatuh hanya menyisakan wangi minnyak kaswari
Sabtu, 05 April 2003
aku mendengar suara-suara itu mengalir dari kegelisahan-kegelisahan dibalik pintu ketika semuanya membisu aku terus saja berjalan caing-cacing dijalanan mati kehabisan cairan aku masih mencarimu daun-daun gugur berserakan kemudian belalang coklat menemuiku dan berkata bahwa kau sudah meninggalkan kota ini lama sebelum aku pergi lebih lama dari kematian ayahmu lebih lama dari kematian penduduk kota ini satu-persatu ah kita masih saja harus menerima kemarau ini jalanan ini yang tak lagi berliku semua rata dengan sisa-sisa rumah terkutuk serbuan bom kita masih saja harus menerima peperangan-peperangan itu entah berapa banyak darah pernah tumpah di sepanjang jalan ini aku masih bisa mencium udara itu yang selalu mengingatkanku pada bau mesiu dan darah menjadi satu ... ah kemana dirimu tak ada siapa-siap lagi disini selain batu dan para tentara yang tak pernah kita kenal siapa mereka darimana asalnya ... mengapa keserakahan tak juga tiada .... aku harus meneruskan perjalanan ini mencarimu mencarimu
korban-korban sistem tenggelam dalam dentang-dentang kegamangan ada lampu yang menyala-nyala warna-warni gemerlap mengisi ruang padam dan nyala mereka yang terus saja gelisah mencari ketenangan dicarinya disana mengikuti kemana arus beranjak menuju pusaran tak berhenti mereka terkurung segala pertanyaan dijawab dengan satu kenikmatan dan seratus kegelisahan yang menimbulkan pertanyaan terus dan terus korban-korban sistem tak pernah terdampar dimakan peradaban menikmati segalanya dari dentuman dentuman irama gamang mencari kesejatian dari alkohol dan sperma semakin rapuh semakin lemah !
Jumat, 04 April 2003
Kamis, 03 April 2003
berhentilah bergerak sebelum kau beranjak kita telah memulainya dari kekosongan ruang-ruang tanpa ujung lurus dan bercabang dimana-mana asap dan sedikit cahaya permisi ada yang sedang lewat kau tak bisa melihatnya ia berbaju kelabu terus menatapmu rambutnya sebahu ia tersenyum sepertinya ia sudah lama mengenalmu maka kau tak perlu lari atau sembunyi meski segala yang datang lampu-lampu padam dan nyala ia terus mengingatmu kapan pun itu merindukan suara kehangatan jiwa dan tubuhmu berapa lama kau tak bersetubuh namun bukan hanya sekedar persetubuhan sebab persetubuhan hanyalah persetubuhan tak lebih dari itu tanpa cinta dan kasih sayang tetapi apakah cinta apakah sayang semuanya begitu menjemuhkan dan sungguh membosankan jika hanya dikatakan dan hanya diperdengarkan tetapi cinta adalah sebuah tindakan adalah sebuah tingkah laku hampir semua yang berkata-kata itu mungkin tak pernah merasakan hei siapakah kamu perempuan-perempuan yang terdiam di persimpangan ada suara air yang menderas dari kegelapan-kegelapan hidup kesejatian diri kesejatian diri kesejatian diri kesejatian segala kesejatian hidup sejati mati sejati tindak sejati sikap sejati sejati hening diam dan BERGERAK
tiba-tiba ada sebuah wabah penyakit baru bisa saja itu sengaja dibuat untuk memecah perhatian mata dunia agar tak hanya melirik ke iraq siapa yang membuatanya tentu saja yang berkepentingan tentu saja yang berkeuntungan ah dunia muak dunia muntah dunia berak dimana kedamaian itu yang menikmati hanyalah setan-setan raksasa perkasa serakah semua nya darah semuanya korban semuanya porak poranda siapa yang punya ia yang berkuasa ia berhak menggorok tiap leher anak-anak, para perempuan dan seluruh umat manusia kapan saja dimana saja tak ada yang menghalanginya jangankan gerakan-gerakan turun jalan itu yang kebanyakan hanyalah teriakan-teriakan gelisah akan mereka juga dirinya kebutuhan akan eksistensi kelompoknya kepuasan ketika mereka masuk diberbagai media mana ada ketulusan ketulusan itu omong kosong omong kosong larilah dan berhentilah ada tuhanmu tanyakan mengapa semua sampai begini yah mengapa dunia hanyalah menjadi induk ruang dari segala luka yang menganga begitu menjijikkan begitu menggiurkan lalat-lalata rakus gemuk dimana-mana menyerang luka-luka semakin menganga dan semakin menganga
Langganan:
Postingan (Atom)