Selasa, 02 September 2003

tarian akar tarian rerumputan dibalut selendang transparan dan nyanyian-nyanyian orang-orang resah menyimpan segala kepahitan dalam dirinya beberapa dari mereka telah telanjang sendiri melepas kepenatan kemudian terhempaskan oleh angin oleh air oleh udara namun sebenarnya merekalah orang-orang yang putus asa
ular dan rumput yang menyatu dalam belukar yang salah dan yang benar terus menerus menjalar dari siapa bagi siapa semua manusia kehidupan tak cukup di gambarkan dengan dua sisi yang selalu ada orang-orang bodoh telah membenamkan kepala nya dalam kubangan lumpur yang menyerap seluruh isinya orang-orang dungu telah melemparkan segumpal jantungnya pada kali mati yang tak pernah mengalir lagi membenamkan segala jenis penyakit segala rumah dari bakteri dan segala air mata yang juga telah mati
dan dirimu adalah bunga-bunga kapas yang jatuh seperti kupu-kupu
air mata telah sekian kalinya mengalir melalui bola mata dari jiwa yang rapuh yang perkasa itu

Senin, 01 September 2003

mengapa kita berada pada posisi ini begitu nyata dan besar dashyatnya segala sebab dan akibat dari segala yang terjadi dari segala pilihan pilihan dari segala yang nyata dan semakin nyata tuhan berilah kami kesabaran
sementara itu aku lihat bayang-bayang wajahmu di hamparan sawah yang tersapu udara atau ilalang tua yang juga tersapu udara
ada yang hilang dari semua yang pernah kami harapkan

Kamis, 14 Agustus 2003

omong kosong semua omong itu kosong semuanya ada tetapi tak ada yang nyata tentang tuhan tentang dirinya tentang semua tak ada yang nyata omong omong kosong omong kosong kosong

Selasa, 12 Agustus 2003

apa kabar ?

Minggu, 03 Agustus 2003

sebuah kesalahan yang berulang-ulang tanpa adanya kesadaran segalanya terjadi diluar pikiran aku terlalu bodoh dan bengal kepala buntu mati terinjak kaki-kaki mana mataku mana jiwaku begitu lusuh terinjak sepatu-sepatu tak ada apa-apa bahkan harga diri pembelaan yang salah pembenaran yang salah segalanya keluar pada saat yang tak pernah tepat aku terlambat dan mengapa aku berkata mengapa juga tak aku hiraukan segala yang ada lagi-lagi ketika kematian dan duri meneror begitu derasnya di sekujur hati perih itu luka itu pembenturan-pembenturan di atas aspal jalan diatas ribuan sejarah peradaban dari zaman demi zaman semua roh itu ikut kasihan tetapi kesadaran telah mati dan benar-benar mati berulangkali aku memberinya janji tetapi janji hanyalah janji teringkari aku ingkari sendiri berkali-kali tak ada suatu pembelahan pada sebuah kesalahan yang begitu besar ayo hajar aku tetapi jangan menyesal aku menunggumu disitu sampai segalanya sembuh kesadaran kepalaku ketajaman rasaku tak kan bisa ada tanpa dirimu tamparlah kepalaku tusuklah jiwaku sampai aku sembuh luka ini telah mengakar kau tak pernah salah dan tak pernah salah mengertilah bersabarlah jangan keluarkan air mata tamparlah aku setiap waktu tamparlah aku butuh itu aku butuh itu agar tak bengal otakku agar tak bengal otakku

Sabtu, 02 Agustus 2003

mengapa kau raba segala yang hadir itu tanpa kepala jiwamu penuh luka mulutmu penuh duri mengapa tak kau sadari segala perjalan yang pernah kau lewati
seribu duri telah tersimpan dan tertanam dalam hati suatu ketika nanti kau akan memakan buah dari pohonnya yang pahit atau tidak yang tidak lari di lambung tetapi di pikiranmu kau cerna kau kan selalu cerna dan terus cerna sampai kau tua